Senin, 24 Juni 2013

5 Negara Maju Tanpa UN

[1]. Finlandia 
Finlandia sebagai negara dengan
system pendidikan termaju di dunia
tidak mengenal yang namanya Ujian
Nasional. Evaluasi mutu pendidikan
sepenuhnya dipercayakan kepada
para guru sehingga negara berkewajiban melatih dan mendidik
guru guru agar bisa melaksanakan
evaluasi yang berkualitas. Setiap
akhir semester siswa menerima
laporan pendidikan berdasarkan
evaluasi yang sifatnya personal dengan tidak membandingkan atau
melabel para siswa dengan peringkat
juara seperti yang telah menjadi
tradisi pendidikan kita. Mereka sangat
meyakini bahwa setiap individu
adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda beda. Di
Finlandia profesi guru adalah profesi
yang paling terhormat. Dokter justru
berada dibawah peringkat guru.

[2]. Amerika 
Amerika yang terdiri dari banyak
negara bagian ternyata tidak pernah
menyelenggarakan UN atau ujian
negara secara nasional. Walaupun
ada ujian yang diselenggarakanoleh
masing-masing state (negara bagian), namun tidak semua sekolah
diwajibkan mengikuti ujian negara
bagian. Tiap negara bagian juga
mempunyai materi ujian-masing
masing. Sekolah-sekolahtetap boleh
menyelenggarakan ujian sendiri dan menentukan kelulusannya sendiri..
Semua lulusan, baik lulusan yang
disenggarakan oleh sekolahnya
sendiri atau lulus ujian yang
diselenggarakan negara bagian,
tetap boleh mengikuti ujian mauk ke college ataupun universitas asal
memenuhi persyaratan dan lulus tes
masuk. Logika pendidikan yang
digunakan yaitu: Kualitas pendidikan
ditentukan oleh individu masing-
masing kelulusan. Walaupun Si A lulusan dari SMA pinggiran yang tidak
terkenal, kalau dia lulus tes masuk ke
Universitas Harvard, maka diapun
akan diterima di universitas
tersebut.Jadi masalah kualitas
ditentukan oleh individu (individual quality). Pakar pendidikan dari Columbia
University, Linda Hammond (1994)
Berpendapat bahwa nasionalisasi
ujian sekolah tidak bisa memberi
kreativitas guru. Sekolah tidak bisa
menciptakan strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial,
ekonomi, budaya, serta kemajuan
teknologi. Sistem pendidikan top
down oriented, tak bisa menjawab
masalah yang ada di daerah-daerah
berbeda.

[3]. Jerman 
Jerman tidak mengenal ujian
nasional. Kebijaksanaan yang
diutamakan adalah membantu setiap
peserta didik dapat berkembang
secara optimal, yaitu dengan:
(1) menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya
dicurahkan untuk menjadi pendidik;
(2) menyediakan fasilitas sekolah
yang memungkinkan peserta didik
dapat belajar dengan penuh
kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang
memadai dan ruang kerja guru;
(3) menyediakan media
pembelajaran yang kaya, yang
memungkinkan peserta didik dapat
secara terus-menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan,
dan buku bacaan, (termasuk novel),
serta kelengkapan laboratorium dan
perpustakaan yang memungkinkan
peserta didik belajar sampai
tingkatan menikmati belajar; (4) evaluasi yang terus-menerus,
komprehensif dan obyektif. Melalui
model pembelajaran yang seperti
inilah, yaitu peserta didik setiap saat
dinilai tingkah lakunya,
kesungguhan belajarnya, hasil belajarnya, kemampuan intelektual,
partisipasinya dalam belajar yang
menjadikan sekolah di Jerman
mampu menghasilkan rakyat yang
beretos kerja tinggi, peduli mutu, dan
gemar belajar. Mereka setiap hari belajar selalu mendapat tugas dari
semua mata pelajaran yang proses
maupun hasilnya dinilai dan nilai-nilai
ini memengaruhi nilai akhir semester
dan seterusnya.

3a. Kanada 
Di Kanada tidak ada Ujian Nasional
karena dianggap tak bermanfaat
untuk kemajuan pendidikan di
negara iti. Untuk kontrol kualitas di
Kanada terdapat penjaminan mutu
pendidikan yang kontrolnya sangat kuat. Lembaga penjamin mutu ini
benar-benar bekerja secara ketat dari
pendidikan dasar hingga menengah.
Sehinga murid yang akan masuk ke
perguruan tinggi cukup dengan
rapor terakhir. Di Kanada, perguruan tinggi tidak sulit lagi untuk menerima
murid darimana pun sekolahnya.
Karena standar sekolah di sana
sudah sesuai dengan standar
perguruan tinggi yang akan dimasuki
setiap lulusan sekolah. Kebalikan dengan di Indonesia,
perguruan tinggi banyak yang tidak
percaya dengan lulusan sekolah
menengah. Saling tidak percaya
standar ini yang menyebabkan
pemborosan keuangan negara karena harus menyelenggarakan UN
dan ujian mandiri.

[5]. Australia 
Di Negara Australia ini, ujian nasional
tidak dilaksanakan bahkan tidak
dikenal sama sekali, melainkan ujian
state. Ujian ini tidak menentukan lulus
tidaknya para peserta didik, namun
untuk menentukan kemana siswa tersebut akan melanjutkan
pendidikan. Berapapun nilai yang
didapatkan oleh siswa dari ujian
tersebut tetap dinyatakan lulus. Nilai
nol pun tetap dinyatakan lulus,
namun kelulusan tersebut tidak ada gunanya. Berarti siswa tersebut akan
sangat sulit untuk melanjutkan
pendidikannya.

0 komentar:

Posting Komentar